Rabu, 18 Februari 2009

MENULIS PANTUN

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama. Lazimnya
pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila
dituliskan), bersajak ab-ab. Dua hal tersebut merupakan ciriciri
pantun. Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan.
Namun, sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan
isi. Ini pun merupakan salah satu ciri pantun dari dua ciri
yang telah disebutkan di atas. Sampiran adalah dua baris
pertama, kerap kali tentang alam (flora dan fauna), dan
biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang
menyampaikan maksud. Dua baris terakhir merupakan isi,
sebagai tujuan dari pantun tersebut.
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama
menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah
pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena
pantun merupakan sastra lisan.
Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan
dengan isi terkadang bentuk sampiran membayangkan isi.
Sebagai contoh dalam pantun di bawah ini:
Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belum lagi sembuh
Menulis pantun tidak sesulit yang kamu kira. Kamu tinggal
memotong perkataanmu menjadi dua bagian. Setelah itu,
carilah perkataan yang panjangnya kurang lebih sama,
seperti contoh, kamu sedang menunggu ibu pulang dari

pasar. Begitu melihat ibu datang, hatimu menjadi senang.
Kamu ungkapkan perasaan hati itu dalam perkataan,”Tidak
terkata besar hati melihat ibu sudah datang. Nah, potonglah
perkataan tersebut menjadi dua bagian.
Tidak terkata besar hati
Melihat ibu sudah datang
Selanjutnya, carilah perkataan yang akan dijadikan
sampiran. Ingat, panjang sampiran kurang lebih sama
dengan baris isi yang persajakannya akan dibuat sama.


2. Uji Kemampuan
1. Lengkapilah pantun-pantun berikut!
a. Berburu ke padang datar,
Mendapat rusa belang kaki,
……………………………………...
……………………………………...
b. ……………………………………...
……………………………………...
Hilang bahasa karena emas
Hilang budi karena miskin
c. Anak ayam turun sepuluh
Mati seekor tinggal sembilan
……………………………………...
……………………………………...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar